PUSLITBANG HORTIKULTURA   
Workshop Pengembangan Perbenihan Bawang Merah TSS

Workshop Pengembangan Perbenihan Bawang Merah TSS

Sekretaris Balitbangtan Dr. Prama Yufdy (kiri) di dampingi Plt. Kapuslitbang Hortikultura Dr. Fadjry Djufry membuka workshop Pengembangan Perbenihan Bawang Merah TSS tanggal 15 Juni 2915 di Jakarta

Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan Varietas Unggul Baru (VUB) bawang merah True Seed of Shallot (TSS) yaitu Agrihort 1 dan 2. Badan Litbang Pertanian juga telah melakukan pendampingan dan transfer teknologi kepada para penangkar dengan harapan dapat mendorong terbentuknya penangkar-penangkar TSS terutama di daerah sentra dan atau daerah pengembangan baru produksi bawang merah.

Biji bawang merah/TSS merupakan biji botani bawang merah yang berasal dari bunga bawang merah yang sudah tua (masa tanam empat bulan) dan diproses sebagai benih. Penggunaan biji bawang merah sebagai sumber benih merupakan salah satu solusi untuk mencukupi kebutuhan benih bawang merah bermutu. Sebab penggunaan umbi sebagai benih secara terus menerus oleh petani juga berdampak pada penurunan kualitas benih akibat akumulasi patogen tular umbi termasuk virus yang akan berdampak pada penurunan produktivitas tanaman.

Dalam prosesnya sebelum TSS ditanam dilapangan oleh petani harus dibuat umbi mini terlebih dahulu oleh penangkar benih. Umbi mini merupakan umbi bawang merah berukuran kecil (3-4 g) yang sengaja dihasilkan sebagai produk benih hasil perbanyakan TSS. Umbi mini diproduksi untuk mendapatkan umbi bermutu dengan ukuran kecil agar diperoleh benih umbi sebanyak-banyaknya dalam luasan tertentu sehingga mempermudah proses distribusi benih dari penangkar TSS ke petani.

Selama ini petani menanam bawang merah dari umbi yang diperoleh dari penangkar benh atau membenihkan sendiri. Penggunaan benih bawang merah dari umbi memerlukan 1,2 ton per hektarnya hal ini bisa menjadi kendala manakala benih tersebut harus dikirim dari tempat yang jauh dimana memerlukan biaya transportasi yang tidak murah. Inovasi teknologi TSS bawang merah yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian diharapkan mampu menjawab berbagai permasalahan yang sering dihadapi petani manakal musim tanam tiba. Dengan menggunakan TSS petani hanya memerlukan 3-7 kg biji bawang merah untuk satu hektarnya  dimana harga per kilo gram biji bawang merah tersebut berkisar 1,5-2,0 juta, keadaan ini mampu menghemat 66-85% untuk penyediaan benih.

Dalam rangka mengembangkan perbenihan bawang merah TSS, Badan Litbang Pertanian menyelenggarakan workshop Pengembangan Perbenihan Bawang Merah TSS tanggal 15 Juni 2016 di Jakarta yang dibuka secara resmi oleh Sekretaris Badan Litbang Pertanian Dr. M. Prama Yufdy, M.Sc mewakili Kepala Badan Litbang pertanian. Pada sambutannya Prama Yufdy menekankan bahwa sudah saatnya TSS masuk kepada pengembangan tidak lagi pada penelitian, kembangkan bersama dan kita evaluasi bersama-sama. Prama yufdy juga menyampaikan agar dalam pengembangan TSS dapat memanfaatkan TTP TSP sebagai lokasi pengembangan umbi mininya. Permasalahan cabai dan bawang merah yang terjadi setiap tahun agar diselesaikan termasuk permasalahan benihnya. 

Workshop ini bertujuan untuk menyampaikan perkembangan kegiatan penelitian dan pengembangan perbenihan TSS, kajian kelembagaan serta analisis biayanya. Peserta workshop terdiri dari berbagai instansi seperti Deputy Bidang Koordinasi Pertanian, PKHT, IPB, Dinas Pertanian Kab. Grobogan, Ditjen Hortikultura, Primasid, East West, UK/UPT lingkup Puslitbang Hortikultura dan stakeholder lainnya.

Workshop diharapkan dapat menghasilkan berbagai rumusan dan masukan yang selanjutnya akan disampaikan kepada Direktorat Jenderal Hortikultura sebagai bahan penyusunan Petunjuk Teknis Pengembangan TSS bawang merah.

Peserta workshop Pengembangan Perbenihan Bawang Merah TSS

Publikasi