PUSLITBANG HORTIKULTURA   
Tanam Perdana kegiatan Riset Pengembangan Inovatif Kolaboratif

Tanam Perdana kegiatan Riset Pengembangan Inovatif Kolaboratif

BALI - RPIK Bawang Putih telah dilaksanakan tanggal 4 Juni 2021 di Banjar Batu Seta, Kabupaten Tabanan Bali. Kegiatan ini merupakan kerjasama Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura dengan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali.

Kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Bupati Tabanan I Made Edi Wirawan, SE, Kapuslitbang Hortikultura Balitbangtan Dr. Taufiq Ratule, Anggota Komisi IV DPR RI Dapil Bali Drs. I Made Urip, M.Si, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali, Kepala Balai Penelitian Sayuran, Kepala BPSB-TPH Provinsi Bali, Penyuluh Pertanian dan POPT Kecamatan Baturiti serta petani pelaksana kegiatan.

Mengawali sambutan kepala Puslitbang Hortikultura bahwa di tengah pandemi covid 19 ini hanya Kementan yang mampu secara positif pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Hal ini tentu sangat diapresiasi sebagai wujud nyata kontribusi kita.

Kementerian Pertanian melalui Balitbangtan pada tahun Anggaran 2021 melaksanakan Riset Pengembangan Inovatif Kolaboratif. (RPIK) bawang putih di beberapa sentra pengembangan salah satunya di Kecamatan Baturiti dan Jatiluweh Penebel, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali, ujarnya.

Permasalahan utama bawang putih lokal kita adalah: (a) produktivitas rendah, (b) bersiung dan berumbi kecil, sulit dikupas sehingga kurang diminati konsumen; (c) Performa atau penampakan secara fisik kurang bagus; (d) efisiensi produksi rendah; (e) harga relatif rendah; dan (f) kurang mampu bersaing di pasar. Bandingkan dengan bawang putih impor: (a) produktivitas tinggi; (b) bersiung dan berumbi besar, sehingga lebih diminati konsumen; (c) Performa atau penampakan secara fisik lebih bagus dan lebih diminati konsumen; (d) efisiensi produksi tinggi karena diusahakan secara intensif pada skala ekonomi; (e) harga relatif rendah; dan (f) memiliki kemampuan bersaing di pasar
Kegiatan RPIK bawang putih ini ditujukan untuk mendapatkan produk bawang putih dengah ukuran  besar (ukuran 5-7 cm) atau provitas lebih dari 20 ton/ha. Beberapa upaya yang dilakukan, antara lain: a) Merekayasa Varietas umbi besar dan teknologi perbanyakan benih untuk menghasilkan bawang putih berumbi besar, varietas umbi besar hasil eksplorasi dan perbaikan teknologi perbanyakan benih secara konvesional, b)Merekayasa Teknologi perbanyakan benih melalui somatic embryogenesis (SE), c) Rekomendasi pengembangan bawang putih di Indonesia, d) Model pengembangan inovasi proliga (produksi lipat ganda).

Pengembangan RPIK melalui demfarm teknik proliga dengan best practice budidaya dan penggunaan varietas unggul Lumbu hijau dan Tawangmangu Baru seluas 6,0 ha di Kecamatan Baturiti dan Jatiluweh Kabupaten Tabanan Bali diharapkan dapat menghasilkan bawang putih berumbi besar dan produktivitas tinggi sehingga dapat bersaing dengan bawang putih impor.

Sementara anggota Komisi IV DPRI Dapil Bali Drs. I Made Urip, M.Si memberikan apresiasi  kepada Balitbangtan dan Puslitbang Hortikultura yang dengan serius dan menempatan kegiatan RPIK bawang putih. Beliau juga berpesan kepada Pemda dan BPTP Bali mari bersyukur dan mendukung program ini sehingga kita bisa mengembalikan kejayaan bawang putih yang konon pada tahun 80-an pernah swasembada.