Detail Berita

KEBANGKITAN FLORIKULTURA INDONESIA: Peran ABGC dalam Pembangunan Industri Florikultura yang Berdaya Saing dan Bernilai Tambah

Blog Single
“Potensi pasar florikultura dalam dan luar negeri saat ini sangat besar dimana permintaan masyarakat terhadap bunga terus meningkat seiring dengan peningkatan masyarakat kelas menengah”, demikian disampaikan oleh Rektor IPB Prof. Herry Suhardiyanto pada pembukaan acara seminar florikultura, tanggal 28 Juli 2017 di IPB International Conference Center (IICC) Bogor. Lanjutnya, pada 2020 diperkirakan akan naik hingga 80 juta bagi kelas menengah karena  tren yang membutuhkan bunga untuk berbagai keperluan sangatlah tinggi. Selain dalam negeri, pasar ekspor juga sangat menjanjikan.  Permintaan bunga dari negara lain, seperti Jepang sangat besar tetapi sektor florikultura ini masih mengalami kendala dalam hal kontinuitas suplai dimana produksi florikultura masih sangat kurang untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat tersebut. Untuk itu, diharapkan campur tangan dari kalangan Akademisi, Pebisnis, Pemerintah dan Komunitas dapat meningkatkan nilai tambah industri florikultura yang berdaya saing.  Pada kesempatan tersebut, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Dr. Hardiyanto juga mempertegas komitmen Balitbangtan untuk berperan aktif dalam kebangkitan florikultura Indonesia.

Sebagai salah satu pembicara dalam seminar tersebut, Dr. Hardiyanto lebih dalam lagi menyampaikan pentingnya penguasaan dan pengembangan inovasi dalam mendukung pembangunan industri florikultura nasional. Sebagai perwujudannya, Balitbangtan melalui Puslitbang Hortikultura telah mendesain 12 program penelitian tanaman hias untuk tahun 2015-2019. Program tersebut antara lain adalah Pengelolaan sumberdaya genetik tanaman hias sebagai bahan perakitan VUB; Perakitan VUB berdaya saing tinggi, tahan terhadap cekaman lingkungan dan diminati konsumen; Penyediaan teknologi produksi benih dan benih sumber bermutu tinggi varietas unggul  tanaman hias; Penyediaan teknologi produksi tanaman hias yang efisien dan antisipatif terhadap perubahan iklim; Pengelolaan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) utama tanaman hias yang ramah lingkungan berbasis sumberdaya lokal, sampai dengan program Pengembangan kapasitas teknologi informasi serta Kemitraan jaringan IPTEK tanaman hias nasional dan internasional.

Selain itu, penerapan dukungan inovasi  dalam program diseminasi florikultura telah banyak dilakukan oleh Balitbangtan. Program ini dikemas dalam bentuk diseminasi pengembangan kawasan agribisnis tanaman hias. Kegiatan tersebut terbukti dapat meningkatkan muatan inovasi dalam sistem agribisnis khususnya tanaman hias krisan yang berbasis sumber daya lokal, dan pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas produksi, kualitas hasil, dan produktivitas usaha tani krisan.  Lebih lanjut disampaikan bahwa program dukungan pengembangan kawasan selama kurun waktu 2014-2016 telah dilakukan di beberapa daerah di antaranya Sukabumi (Jabar); DIY, Wonosobo dan Batang (Jateng), Solok (Sumbar), dan Tomohon (Sulut). Program diseminasi teknologi inovasi Balitbangtan di Wonosobo pada awalnya merupakan program dukungan kepada agenda Pemda Wonosobo dalam kerangka misi pengembangan Green City.  Konsep pengembangan Green City memprioritaskan komoditas hortikultura dalam pengembangan potensi ekonomi daerah yang berbasis pertanian dan pariwisata. Keberhasilan kerja sama antara Balitbangtan, Kementan, dan Pemda Kabupaten Wonosobo dalam pengembangan tanaman hias mengilhami Kabupaten Batang untuk melakukan pengembangan potensi wilayah berbasis agrowisata dengan langkah awal menginisiasi introduksi teknologi inovasi tanaman hias dengan penanaman Krisan di dua lokasi, Desa Wonobodro dan Keteleng di Kecamatan Blado.
 
Turut memberikan inspirasi dan pemikiran untuk kebangkitan florikultura, hadir beberapa pembicara lain dalam seminar florikultura, diantaranya Dr. Agus Purwito, MSc. Agr (Dekan Fakultas Pertanian IPB); Dr. Sarwo Edhi, MM (Direktur Direktorat Buah dan Flori); Fajarini Puntodewi SH, MM (Kepala Pusat Kebijakan Perdagangan Luar Negeri, Kementrian Perdagangan); F. Rahardi (Perhimpunan Anggrek Indonesia); Ir. Glenn Pardede, MM. MBA (Ketua Asbindo); Dr. Siti Nurisjah (Ikatan Arsitek Lansekap Indonesia dan Ketua IALI); dan Ir. Suzy Ratnawati Madjid (PT Monfori).


Share this Post: