PUSLITBANG HORTIKULTURA   

UPSUS

MEMBANGUN 1.313 DESA MANDIRI BENIH


Pembangunan pertanian dalam periode Kabinet Kerja 2015-2019 diarahkan untuk mewujudkan kedaulatan pangan, salah satu sasarannya berupa kemampuan bangsa mencukupi kebutuhan pangan dari produksi dalam negeri atau swasembada pangan. Sesuai peta jalan menuju Indonesia sebagai Lumbung Pangan Dunia 2045, sasaran swasembada berkelanjutan untuk beras ditargetkan tercapai sejak tahun 2016, dipertahankan sampai menjadi lumbung pangan tahun 2045. Peningkatan produksi padi ditentukan oleh luas areal panen dan produktivitas. Varietas unggul dapat mempengaruhi keduanya. Varietas unggul dengan potensi hasil tunggi bila dibudidayakan dengan pendekatan pengelolaan tanaman terpadu spesifik lokasi, dapat meningkatkan produktivitas. Varietas umur genjah dan adaptif cekaman biotik/abiotik dapat memperluas areal tanam, seperti yang dilakukan dalam upaya khusus (UPSUS). Ketersediaan benih bermutu sangat vital, sebagai pembawa keunggulan genetik varietas baru. Penggunaan benih bermutu dilihat dari benih bersertifikat yang digunakan untuk padi baru mencapai 50,86% dari jumlah kebutuhan benih 349.540 ton yang dipasok produsen benih dari system perbenihan komersial, sisanya dipenuhi dari benih asalan yang diproduksi oleh masyarakat. Penggunaan benih asalan tidak memungkinkan varietas baru untuk mencapai potensi hasil sesuai keunggulan genetiknya, sehingga target peningkatan produktivitas dan produksi sulit tercapai. Salah satu langkah strategis Kementerian Pertanian untuk meningkatkan mutu benih yang diproduksi masyarakat dilakukan melalui pengembangan Desa Mandiri Benih (DMB) yang merupakan salah satu bagian dari NAWACITA Kabinet Kerja. Pengembangan DMB Padi telah dilaksanakan sejak tahun 2015, sampai dengan saat ini telah dikembangkan 1.313 unit DMB Padi. Satu unit Desa Mandiri Benih Padi merupakan kegiatan produksi benih pada areal 10 ha dengan bantuan alokasi dana Rp.170 juta per-unit yang diperuntukkan bagi: (1) Biaya pengadaan sarana produksi, biaya sertifikasi dan biaya prosesing, (2) Biaya pengadaan alsin pengolahan (procesing) dan pengemasan benih, (3) Biaya pembuatan gudang penyimpanan benih (minimal 40 M2) dan (4) Biaya pembuatan lantai jemur (minimal 80 M2).Pengembangan DMB Padi diperkirakan meningkatkan proporsi benih bermutu dari 50,86 % tahun 2015 menjadi 66%, meskipun ada benih yang diproduksi kelompok tani DMB yang tidak disertifikat karena digunakan sendiri. Badan Litbang Pertanian melalui kegiatan Sekolah Lapang (SL) Kedaulatan Pangan Mendukung Swasembada Pangan Terintegrasi Desa Mandiri Benih, mengimplementasikan Model-DMB dalam kegiatan SL-DMB pada/ berdampingan dengan unit DMB Padi yang dikembangkan Ditjen Tanaman Pangan. Model Desa Mandiri Benih dibangun menggunakan referensi Model Sistem Perbenihan Berbasis Masyarakat yang dikembangkan oleh Consortium Unfavourable Rice Environment (CURE), IRRI yang melibatkan jaringan Unit Pengelola Benih Sumber (UPBS) Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, BPTP dan Kelompok Tani (Keltan) Mandiri Benih, berkoordinasi dengan unit pelaksanan teknis terkait seperti BPSB dan Dinas Pertanian di daerah. Beberapa masukan untuk penyempurnaan implementasi Desa Mandiri Benih Padi agar kegiatan produksi beni bekelanjutan, berdasarkan pembelajaran Model-DMB sebagai berikut: (1) Berdasarkan pemahaman bahwa tidak semua petani/calon penangkar berminat berbisnis benih, sehingga tujuan dan sasaran, kriteria lokasi dan kriteria petani pelaksana serta luas areal penangkaran perlu disesuaikan dengan keinginan petani/calon penangkar; (2) Produksi benih didasarkan pemetaan kesesuaian varietas unggul adaptif spesifik lokasi dan sesuai preferensi konsumnen; (3) Memanfaatkan jaringan UPBS Badan Litbang Pertanian untuk penyediaan benih sumber varietas unggul baru yang belum popular; (4) Target produksi benih disesuaikan dengan pesanan pengguna, bukan berdasarkan estimasi luas lahan sawah di suatu desa, (5) Meningkatkan kemampuan produksi benih bermutu petani/calon penangkar dengan sekolah lapang, dipandu oleh Petugas Lapangan melalui program-program penyuluhan dan inkubasi bisnis sehingga mampu mengelola produksi dan memasarkan benih secara berkelanjutan; (6) Perlu upaya peningkatan minat petani dilokasi Desa Mandiri Benih untuk menggunakan benih yang dihasilkannya; (6) Membangun kemitraan antara pelaksana kegiatan Desa Mandiri Benih dengan koperasi tani/ produsen benih baik BUMN maupun swasta nasional. Selain padi, sub sektor pertanian lainnya yang tidak kalah penting adalah hortikultura. Kementierian Pertanian telah memberikan perhatian serius terhadap hortikultura, salah satunya yakni dicanangkannya tahun 2018 sebagai tahun perbenihan hortikultura. Namun, pengembangan hortikultura tidak hanya fokus pada peningkatan produksi saja tetapi terkait dengan isu-isu strategis lain dalam pembangunan secara luas. Pembangunan hortikultura juga mengacu pada pencapaian target sukses Kementerian Pertanian yaitu: kedaulatan pangan dan sistem pertanian industri guna meningkatkan kesejahteraan petani. Dalam budidaya hortikultura, salah faktor penentu keberhasilannya adalah penggunaan benih bermutu. Dalam rangka mendukung percepatan swasembada pangan dan swasembada yang berkelanjutan, termasuk didalamnya adalah hortikultura, maka pemerintah mempunyai kewajiban untuk mengembangkan perbenihan hortikultura guna memperkuat program tersebut. Kementerian Pertanian melalui program pengembangan perbenihan tahun anggaran 2017 melalui APBN-P 2017 diharapkan mampu mengakselerasi diseminasi inovasi teknologi hortikultura yang telah dihasilkan. Pelaksanaan produksi benih hortikultura tahun 2017 dan 2018 yang dilakukan oleh Balitbangtan dalam hal ini Balai penelitian lingkup Puslitbang Hortikultura dan 25 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) di seluruh Indonesia. Benih hortikultura yang diproduksi meliputi bawang putih, bawang merah, kentang, mangga, manggis, jeruk, durian, pepaya, pisang, salak, apel, lengkeng, anggur, stroberi, jengkol, petai, dan sukun.