PUSLITBANG HORTIKULTURA   
Budidaya dan Produksi Benih Paria Belut

Budidaya dan Produksi Benih Paria Belut

Rinda Kirana, Redy Gaswanto, dan Iteu M. Hidayat

I. Pendahuluan
Paria belut bernama latin Trichosanthes cucumerina, merupakan tanaman asli benua Asia. Telah diketahui sebanyak 40 spesies yang 15 diantaranya merupakan spesies asli di daerah Asia Tenggara termasuk Indonesia. Daun muda dan buah muda adalah bagian tanaman yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan bahan dasar pembuatan obat. Dalam 100 g buah muda paria belut terkandung 94 g air, 0.6 g protein, 0.3 g lemak, 4 g karbohidrat, 0.8 g serat, 26 mg Ca, 0.3 g Fe, 20 mg P, 234 IU vitamin A, 0.02 g mg vitamin B1, 0.03 mg vitamin B2, 0.3 mg niacin, 12 mg vitamin C, dengan total energi sebesar 70 kJ.

II. Kultur Teknis
Syarat tumbuh
Paria belut lebih dapat beradaptasi baik pada dataran rendah dan sangat membutuhkan pengairan yang baik. Temperatur optimum untuk pertumbuhan paria belut adalah 30-35C.
Tanam
Paria belut diperbanyak secara generatif melalui biji. Kebutuhan benih per hektar mencapai 4-6 kg. Benih paria belut dapat ditanam secara langsung atau pindah tanam pada saat bibit mempunyai dua daun sejati. Jarak antar baris adalah 1-1.5 m, sedangkan jarak antar tanaman dalam baris 60-75 cm.
Pengairan
Pengairan yang cukup pada saat tidak ada hujan sangat dibutuhkan untuk mendapatkan pertumbuhan dan hasil yang optimal.
Pemupukan
Selama periode pertanaman dilakukan dua kali pemupukan seperti pada tabel berikut :
Saat Tanam
2 MST
4 MST6 MST8 MST
20 t/ha Pupuk kotoran hewan
-
-
-
-
100 kg/ha N
100 kg/ha N100 kg/ha N100 kg/ha N100 kg/ha N
150 kg/ha P
-
-
-
-
150 kg/ha K
-
-
-
-
mst : minggu setelah tanam
Pengendalian hama dan penyakit tanaman
Penyakit utama paria belut adalah embun tepung (Pseudoperonospora cubensis) dan antraknose (Colletotrichum lagenarium). Sedangkan hama yang sering menyerang tanaman ini adalah lalat buah dan nematoda. Pencegahan dapat dilakukan melalui pemeriksaan rutin dan penyemprotan pestisida secara selektif.
Panen
Panen buah pada saat masih muda dilakukan pada 12-20 hari setelah pembuahan atau 47-55 hari setelah tanam. Panjang buah yang biasanya dipanen adalah 30-60 cm. Berat per buah dapat mencapai 0.5-1 kg, sebanyak 6-50 buah per tanaman.

III. Produksi Benih
Budidaya produksi benih
Budidaya untuk produksi benih paria belut hampir sama seperti budidaya konsumsi, kecuali ada perlakuan isolasi jarak dan seleksi (roguing) untuk menjaga kemurnian genetik benih yang dihasilkan. Tanaman paria belut termasuk tanaman yang menyerbuk silang (cross pollinated). Isolasi jarak yang digunakan sekitar 1000 m. Seleksi tanaman dilakukan pada fase pertumbuhan vegetatif, fase berbunga dan fase berbuah, meliputi : keseragaman pertumbuhan, bentuk daun, warna bunga, bentuk buah dan lain-lain
Waktu pemanenan benih
Waktu pemanenan benih paria belut sekitar 130 hari setelah semai, ditandai dengan buah telah berwarna kuning. Buah paria belut dipanen dengan cara dipotong tangkai buahnya dengan pisau.
Prosesing benih
Prosesing benih paria belut dilakukan dengan cara mengeluarkan biji yang berlendir, selanjutnya dicuci bersih. Biji paria belut yang sudah bersih dari lendir tersebut kemudian dikeringkan. Rata-rata benih biji paria belut yang dapat dihasilkan sekitar 250 g biji per tanaman.
Pengeringan benih
Biji paria belut dibungkus kertas kemudian dikeringkan di bawah sinar matahari selama 3 hari. Setelah kadar air benih paria belut mencapai sekitar 10.0 %, maka biji harus segera dikemas.
Pengemasan benih
Benih atau biji paria belut dapat dikemas dalam kemasan kertas, namun akan lebih baik lagi jika menggunakan kemasan alumunium foil, karena sifatnya yang kedap udara. Jika memungkinkan udara yang ada dalam kemasan alumunium foil juga dihisap keluar dengan menggunakan alat penghisap (vacuum), sehingga kadar air benih awal dapat dipertahankan.
Penyimpanan benih
Benih yang dikemas dalam kemasan kertas harus disimpan dalam stoples kaca yang telah diberi bahan desikan, seperti : silika gel; arang; abu gosok, sehingga udara didalam stoples diharapkan tetap kering dan dapat mempertahankan kadar air benih awal. Untuk benih yang dikemas dalam kemasan alumunium foil sebaiknya juga disimpan dalam wadah stoples yang tertutup. Selanjutnya stoples disimpan di tempat yang kering dan sejuk. Jika memungkinkan dapat disimpan dalam gudang benih yang suhu dan kelembabannya dapat diatur (t = 18o C; RH = 30%).