Untuk hasil terbaik gunakan browser Mozilla Firefox 2.0.0 ke atas atau Internet Explorer 6 ke atas Resolusi layar 1024 X 768 pixels
 
 
balitsa balitbu balithi balitjestro
 
 
# SMS CENTER BENIH SUMBER DAN PLASNANUTFAH HORTIKULTURA (081299105742) # Plasma Nutfah dan Benih Sumber Hortikultura "Clik here" # Telah Terbit Majalah IPTEK 2014 "Selengkapnya"
     
     
 
Beranda > HASIL RISET > PRODUK


BUDIDAYA DAN PRODUKSI BENIH TIMUN MERAH
Rinda Kirana, Redy Gaswanto, dan Iteu M. Hidayat

I. Pendahuluan
Nama latin tanaman timun merah adalah Coccinia grandis. Timun merah merupakan tanaman yang banyak dibudidayakan di India, Malaysia, Thailand, dan Indonesia. Pucuk dan daun muda biasa dikonsumsi dengan cara ditumis atau direbus dan dipakai sebagai pelengkap nasi, mie atau sup. Pucuk daun ivy gourd merupakan sumber vitamin terutama vitamin A (8000-18000 IU) dan protein (3.3-4.9 g). Dalam 100 g buah ivy gourd terdapat 94 g air, 1-2 g protein, 0.1 g lemak, 3.1 g karbohidrat, 0.07 g vitamin B1, 0.08 mg vitamin B2, 15 mg vitamin C, 0.7 mg niacin, 40 mg Ca, 1.4 mg Fe, 30 mg P, dengan total energi sebesar 72-90 kJ.

II. Kultur Teknis
Persiapan lahan
Persiapan lahan yang tepat dapat menghasilkan kualitas tanaman timun merah yang baik. Persiapan lahan yang meliputi pengolahan tanah dilakukan 4-6 minggu sebelum tanam.
Tanam
Timun merah diperbanyak secara generatif (melalui biji) dan vegetatif. Jarak tanam yang diperlukan 30-50 cm antar tanaman dalam barisan dan 2-3 m antar barisan Optimum kerapatan tanaman berkisar dari 6500-11000/ha. Jika sebagai tanaman pekarangan, sebaiknya menggunakan jarak tanam 50 cm x 50 cm. Tanaman timun merah tumbuh merambat dengan tipe pertumbuhan tegak sehingga membutuhkan tralis sebagai penyangga.
Pengairan
Pengairan yang cukup pada saat tidak ada hujan sangat dibutuhkan untuk mendapatkan pertumbuhan dan hasil yang optimal.
Pemupukan
Selama periode pertanaman dilakukan dua kali pemupukan seperti pada tabel berikut :
Waktu Aplikasi
Saat Tanam
Waktu mulai berbunga
10t/ha pupuk kotoran hewan
-
20 kg/ha N
20 kg/ha N
30 kg/ha P
-
40 kg/ha K
-
Pengendalian hama dan penyakit tanaman
Hama yang menyerang adalah aphids dan lalat buah, sedangkan penyakit yang biasanya menyerang tanaman ini adalah antraknos dan penyakit embun tepung. Pengendalian penyakit ini adalah dengan melakukan pemeriksaan rutin dengan membuang bagian tanaman yang sakit atau penggunaan pestisida secara selektif.
Panen
Buah timun yang sudah memerah mulai dipanen 130 hari setelah tanam. Akan tetapi pucuk tanaman timun merah sudah dapat dipanen sejak 40-60 hari setelah tanam. Panen dilakukan secara berkala setiap 10 hari sekali. Apabila tanaman dipelihara dengan baik, buah ataupun pucuk timun merah dapat dipanen beberapa kali.

III. Produksi Benih
Budidaya produksi benih
Budidaya untuk produksi benih timun merah hampir sama seperti budidaya untuk konsumsi, kecuali ada perlakuan isolasi jarak dan seleksi (roguing) untuk menjaga kemurnian genetik benih yang dihasilkan. Tanaman timun merah termasuk tanaman yang menyerbuk silang (cross pollinated) dengan perantara serangga. Isolasi jarak yang digunakan sekitar 1000 m. Seleksi tanaman dilakukan pada fase pertumbuhan vegetatif, fase berbunga, dan fase berbuah, meliputi : keseragaman pertumbuhan, bentuk daun, warna bunga, bentuk buah dan lain-lain.
Waktu panen untuk benih
Waktu panen buah untuk benih timun merah sekitar 130 hari setelah semai untuk tanaman yang ditumbuhkan di dataran tinggi dengan ciri buah telah berwarna merah. Buah timun merah dipanen dengan cara dipetik.
Prosesing benih
Biji timun merah diselimuti gelatin yang mengandung zat inhibitor, sehingga biji mengalami dormansi. Prosesing benih timun merah dilakukan dengan cara mengekstraksi buah, kemudian difermentasi 2 hari supaya gelatin terpisah dari biji, dan dicuci bersih. Biji timun merah kemudian dibungkus kertas dan dikeringkan. Dari satu buah timun merah rata-rata dapat dihasilkan sekitar 50 biji.
Pengeringan Benih
Biji timun merah dikeringkan di bawah sinar matahari selama 3 hari. Setelah kadar air biji telah mencapai sekitar 8.0 - 10,0 %, maka biji harus segera dikemas.
Pengemasan benih
Benih atau biji timun merah dapat dikemas dalam kemasan kertas, namun akan lebih baik lagi jika menggunakan kemasan alumunium foil, karena sifatnya yang kedap udara. Jika memungkinkan udara yang ada dalam kemasan alumunium foil dikeluarkan dengan menggunakan alat penghisap (vacuum), sehingga kadar air benih awal dapat dipertahankan. Kadar air benih timun merah ketika akan dikemas sebaiknya sekitar 8.0 - 10,0%.
Penyimpanan benih
Benih yang dikemas dalam kemasan kertas harus disimpan dalam stoples kaca yang telah diberi bahan desikan, seperti : silica gel; arang; abu gosok, sehingga udara didalam stoples diharapkan tetap kering dan dapat mempertahankan kadar air benih awal. Untuk benih yang dikemas dalam kemasan alumunium foil sebaiknya juga disimpan dalam wadah stoples yang tertutup. Selanjutnya stoples disimpan di tempat yang kering dan sejuk. Jika memungkinkan dapat disimpan dalam gudang
benih yang suhu dan kelembabannya dapat diatur (t = 18o C; RH = 30%).

 

 
     
 
 Cari :  
 

     
 
INFORMASI LAIN










 
     

     
 
KONTAK ONLINE
Dewan Redaksi:
PuslitHorti

Via Yahoo Messenger Web:

 
     
Untitled Document

 




Kecuali dinyatakan lain, pemilik content, gambar dan desain adalah Badan Litbang Pertanian Cq. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, bagi yang ingin menyebarkan/menggunakan materi yang ada di situs web ini, dipersilahkan dengan mencantumkan alamat situs web ini sebagai sumbernya.


Tentang Kami | Peta Situs | Kontak Kami | © 2009 Web Admin Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura
Jl. Raya Ragunan 29A Pasar Minggu - Jakarta Selatan 12540, Indonesia   Telp: +62 (21) 7805768, 7892205   Fax: +62 (21) 7805135, 7892205
Email: puslitbanghorti@litbang.deptan.go.id, pushorti@yahoo.com