PUSLITBANG HORTIKULTURA   
Foto untuk : Efisiensi Air Mendukung Off Season Mangga

Efisiensi Air Mendukung Off Season Mangga

Mangga merupakan tanaman buah yang memberikan sumbangan terbesar ketiga terhadap produksi buah nasional setelah pisang dan jeruk, yaitu 1.627.997 t atau sekitar 10,07% (Anonymous 2006). Pada periode tahun 2003–2005, Indonesia menduduki urutan kelima sebagai sepuluh besar negara penghasil mangga dunia, namun tidak termasuk sepuluh besar negara pengekspor mangga dunia (FAOSTAT 2007). 

Musim panen raya mangga umumnya terjadi pada bulan-bulan sekitar November–Desember, di mana pada saat musim raya harga buah menjadi jatuh. Oleh karena itu upaya untuk memperpanjang musim panen agar tidak menumpuk di satu waktu terus dilakukan. Teknologi off season sudah tersedia yaitu dengan penggunaan paklobutrazol. Namun demikian teknologi ini harus didukung dengan manajemen pengairan dan pemupukan yang baik serta pengendalian OPT untuk mendukung keberhasilannya.

Selain itu, masyarakat dunia saat ini juga menuntut bahwa produk pertanian termasuk mangga harus aman bagi kesehatan dengan proses produksi yang meminimalkan kerusakan lingkungan tetapi tidak mengorbankan kualitas. Di sisi lain perkembangan teknologi dewasa ini memungkinkan budidaya tanaman lebih efisien. 

Upaya memperpanjang musim panen agar tidak menumpuk di satu waktu bisa dilakukan dengan teknologi off season dengan penggunaan paklobutrazol. Namun, dalam hal ini ketersediaan air harus diperhatikan karena air menjadi faktor utama pembatas produksi. Meskipun nutrisi yang diberikan cukup, namun tanpa ketersediaan air, nutrisi tersebut tidak dapat tersedia bagi tanaman. Sementara itu, pada umumnya ketersediaan air di wilayah kering sangat terbatas, untuk itu perlu diupayakan pemanfaatan air secara efisien. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan teknologi produksi mangga yang efisien air yang mendukung off season  mangga. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari–Desember tahun 2017 di kebun mangga milik PT. Trigatra Rajasa Situbondo Jawa Timur. Hasil kegiatan  menunjukkan bahwa penggunaan bahan penahan air berpengaruh terhadap efisiensi penggunaan air pada tanaman mangga di lapangan. Pemberian hidrogel 30 kg/tanaman atau kompos batang pisang 60 kg/tanaman berpengaruh terhadap efisiensi penggunaan air pada tanaman mangga di lapangan sebesar 33% (1.600 l/tanaman) dibandingkan dengan kontrol (2.400 l/tanaman), dan peningkatan produksi sebesar 45–50%.

Saat ini telah berkembang teknologi yang memungkinkan penghematan input pupuk, air dan pestisida untuk pertanian. NanoClay, hidrogel, dan biochar merupakan beberapa contoh produk yang dapat menghemat air untuk irigasi. Produk-produk tersebut merupakan bahan higroskopis yang dapat berfungsi menyerap dan melepaskan (absorption-release cycles) serta menyimpan air dan nutrisi tanaman dalam jumlah besar.

Selanjutnya dari beberapa hasil penelitian diketahui bahwa pemanfaatan hidrogel yang dikombinasikan dengan biochar pada lahan kering masam mampu memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah tersebut. Biochar bersumber dari arang limbah pertanian yang sulit terdekomposisi sebagai bahan pembenah tanah, yang diproses melalui pembakaran bahan organik tanpa oksigen pada temperatur 250–500°C. Penambahan biochar dapat meningkatkan kesuburan tanah dan mampu memulihkan kualitas tanah yang terdegradasi (Nurida dkk. 2012). Selain itu, pemberian arang hayati/biochar ini dapat memperbaiki struktur tanah, meningkatkan tambatan unsur hara esensial yang dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman, efektif menahan unsur hara dan menyediakan media tumbuh yang baik bagi aktivitas mikroba dalam tanah dan menambah kandungan karbon dalam tanah (Wihardjaka 2014).