PUSLITBANG HORTIKULTURA   
Foto untuk : Petani Sembalun dan Bawang Putih

Petani Sembalun dan Bawang Putih

Riuhnya upaya menuju swasembada bawang putih, bak membangunkan petani Sembalun untuk kembali menggeluti komoditas utama yang pernah jaya dua dekade lalu. Sembalun, kecamatan di Kabupaten Lombok Timur, NTB, memang terletak di dataran tinggi, tepatnya di kaki gunung Rinjani sisi sebelah timur, adalah daerah penghasil bawang putih pada masa lalu, dengan petani yang sangat loyal pada varitas lokalnya, Sangga Sembalun. Tidak ada petani Sembalun yang melewatkan tanam bawang putih. Komoditas ini telah turun temurun menjadi ATM bagi petani Sembalun, ketika butuh uang, ambil, dengan cepat sudah jadi uang. Nilai tukarnya tinggi. 

Ngobrol dengan petani tentang kisah suksesnya selalu mengasyikkan dan mendapat nilai-nilai kearifan lokal yang berharga. Bagi petani Sembalun, bawang putih lah idolanya. Ketika pernah gagal panen akibat serangan penyakit yang mematikan dan awal gempuran bawang impor pada sekitar tahun 1998-2000, petani beralih tanam kentang dan sayuran lainnya. Namun, bawang putih tidak ditinggalkan, dalam jumlah sedikit tetap tanam. Pada masa jayanya, jika memiliki lahan 2 hektar, maka setengah dari hasil panennya disimpan. Mereka tidak pernah kesulitan benih, karena setiap panen sudah menyisihkan 10-50% untuk disimpan. Untuk benih tanam tahun depan dan sebagian adalah tabungan untuk keperluan mendesak. 

Petani tidak pernah kesulitan menjual hasil panen. Tengkulak sudah datang, jika tercapai kesepakatan harga, panen dibantu pemilik, timbang bawang di lahan dan bayar. Bagian yang tidak dijual, dipanen sendiri oleh petani, dibawa pulang. Kemudian disortasi, dipisahkan untuk benih, diikat pada bagian daunnya (sekitar 3 kg/ikat), dan digantung pada para-para di halaman.  Bawang untuk simpanan juga diikat dan digantung bersamaan. Juga dipisahkan bawang tunggal, yang dipercaya sebagai obat, dan dijual khusus. Jika cuaca terang, penjemuran cukup 3-4 minggu sampai sebulan, tergantung cuaca. Bawang keadaannya sudah “kering batu” menurut istilah Sembalun, tidak akan kempes. Selanjutnya, bawang disimpan. Tempat penyimpanannya adalah bagian dari rumah (dapur), atau bangunan tersendiri dengan atap seng, tanpa plafon. Pada ketinggian setingkat plafon, dipasang bambu untuk menggantung ikatan bawang putih. Dibuat 3 tingkat. Ruangan bawahnya, merupakan bagian dapur dengan tungku dan api dari kayu bakar, dan sehari-hari untuk memasak. Fungsi pemanasan dengan kayu bakar adalah untuk menjaga ruangan tetap kering, tidak lembab. Asap dari kayu bakar mengandung fenol, karbonil dan asam, berfungsi mengawetkan, sebagai anti mikroba, anti serangga, sehingga mencegah busuk dan serangan hama. Dengan teknik petani ini, pada 9-10 bulan simpan, asal masih belum lepas dari tangkainya, masih layak tanam. Jika “bungkul bawang” diambil, “siung” dibuka, masih belum bertunas. Siung langsung tanam. Siklus bawang putih berlangsung, tanam-panen-simpan-tanam lagi, semua ditangani petani secara mandiri. (Sulusi Prabawati).