PUSLITBANG HORTIKULTURA   
Evaluasi dan Perencanaan Produksi True Seed of Shallot (TSS) Lingkup Badan Litbang Pertanian

Evaluasi dan Perencanaan Produksi True Seed of Shallot (TSS) Lingkup Badan Litbang Pertanian

Pada tanggal 8-9 Nopember 2017 bertempat di Wisma Tani Jakarta dilakukan workshop evaluasi kegiatan produksi tahun 2017 dan perencanaan produksi True Seed of Shallot (TSS) lingkup Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Workshop ini dihadiri oleh Kepala Puslitbang Hortikultura Dr. Ir. Hardiyanto, MSc, Sekretaris Badan Litbang Pertanian Dr. M. Prama Yufdy, MSc, Kepala BBP2TP yang diakili oleh Ir. Agus Muharam, MS, pelaksana produksi TSS Lingkup Badan Litbang Pertanian baik dari Puslitbanghorti, Balit Lingkup Puslitbanghorti, dan BPTP Lingkup Badan Litbang Pertanian. Acara workshop ini dibuka secara resmi oleh Sekretaris Badan Litbang Pertanian.

Pada workshop ini dibahas perkembangan produksi TSS lingkup Balitbangtan tahun 2017 baik yang dilaksanakan menggunakan dana APBN atau kemitraan. Berbagai macam kendala dan permasalahan diungkapkan dalam workshop ini untuk kemudian diambil strategi untuk penyelesaian berbagai kendala dan permasalahan tersebut. Tahun 2016 lingkup Balitbangtan ditargetkan untuk memproduksi 6 ton TSS ssehingga memerlukan beberapa strategi dalam pelaksanaannya agar dapat memenuhi target yang ditetapkan.


Berdasarkan hasil pemaparan dan diskusi dapat dirangkum  sebagai berikut:

  1. Produksi TSS merupakan program nasional guna mensubstitusi benih umbi bawang merah dan meningkatkan produksi bawang merah dalam negeri. Pemerintah mencanangkan produksi bawang merah pada tahun 2020 sudah dapat berswasembada dan tahun 2045 mampu menjadi pengekspor bawang merah. Oleh karena itu program ini perlu disukseskan oleh jajaran Badan Litbang Pertanian sebagai sumber inovasi teknologi. Pada tahun 2017 Puslitbang Hortikultura ditargetkan menghasilkan 2 ton TSS (1,5 ton dari DIPA dan 0,5 ton dari KP4S). Pada tahun 2018, Dirjen Hortikultura membutuhkan 8 ton TSS yang sebagian harus ditunjang oleh produksi dari Badan Litbang Pertanian. Hal ini menjadi tanggungjawab yang harus  dicermati dengan serius, oleh karena itu pelaksanaannya harus dipantau dengan seksama dan membuat laporan perkembangan, sehingga kalau terjadi masalah di lapangan segera dapat ditanggulangi dengan segera supaya target bisa tercapai.
  2. 2Koordinasi Puslitbang Hortikultura dengan B.B. Pengkajian dalam korporasi Balitbangtan sudah terjalin dengan baik sehingga program-program Puslitbang Hoertikultura atau sebaliknya mudah dilakukan, terutama dalam menjalankan program strategis hortikultura, termasuk di dalamnya program produksi TSS. Sebagai gambaran pada tahun 2017 Balitbangtan ditargetkan  menghasilkan 2 ton TSS, yang dilaksanakan oleh Puslitbang Hortikultura (Balitsa, Balithi dan Balitjestro), dan melibatkan pula 8 BPTP yaitu BPTP Jabar,  BPTP Jatim, BPTP Jateng, BPTP DIY, BPTP Sulsel, BPTP Sumut, BPTP Sumbar dan BPTP NTB dengan pembiayaan melalui APBN dan adhoc KP4S.
  3. Diperlukan umpan balik dari BPTP terhadap teknologi Puslitbang Hortikultura. Balit perlu informasi spesifik lokasi untuk merancang teknologi sehingga penguatan padu padan sangat penting. Umpan balik penting disampaikan oleh BPTP yang sudah melaksanakan SOP yang dirancang oleh Puslitbang Hortikultura dan jajarannya.
  4. Dalam memproduksi TSS telah muncul beberapa permasalahan yang menghambat pencapaian target produksi, antara lain masalah teknis berupa serangan OPT, masalah kecukupan pendanaan sampai masalah sosial yang berdampak pada keamanan dan kelancaran kegiatan 
  5. Produksi TSS tahun 2017 lingkup Balitbangtan hanya mencapai 20% dari target.  
  6. Produksi TSS dilakukan melalui kerjasama dengan petani dan di kebun percobaan. Kerja sama dengan petani dihadapkan pada beberapa kendala yang dapat berdampak pada pencapaian target produksi. Mengingat bahwa TSS sudah menjadi salah satu program strategis Balitbangtan, maka perlu diusulkan KP Gur Gur yang secara ekologis sesuai untuk produksi TSS sebagai “unit produksi benih TSS Balitbangtan”.
  7. Supaya sasaran target produksi TSS tercapai, para pelaksana supaya menjalankan SOP yang telah dibuat dengan ketat, serta melibatkan team work yang solid dari berbagai disiplin ilmu, terutama dari disiplin teknologi benih, pemuliaan dan hama & penyakit. Pendampingan, bimbingan teknis dan pemantauan perlu dilakukan sejak awal, tetapi masalah dananya masih belum tercantum dalam APBN.
  8. Beberapa aspek teknis dan non-teknis perlu mendapatkan perhatian dari semua pihak yang trlibat dalam memproduksi TSS, terutama dalam hal (1) masalah logistik (benih umbi untuk memproduksi TSS); (2) penentuan lokasi pertanaman; (3) pemantapan SOP; (4) kajian produksi TSS spesifik lokasi; (5) memperhatikan pola kerjasama dengan petani kooperator atau swasta; dan (6) adanya bimbingan teknis bagi pelaksana teknis produksi TSS di lapang, terutama bagi pemain baru.
  9. Umur produksi TSS varietas Bima dan produktivitasnya di setiap lokasi cukup beragam sebagai fungsi ketinggian tempat. Di Sumut umur panennya mencapai 113 hari, di Cipanas 95 hari dan di Tlekung 103 hari. Hal ini perlu mendapat penanganan khusus dalam produksi TSS varietas Bima.
  10. Pengalaman memproduksi TSS di tahun 2017 merupakan pembelajaran yang berharga. Segala kendala teknis harus dapat diidentifikasi dan dicarikan solusinya yang tepat sasaran, sehingga pada pertanaman tahun 2018 target produksi TSS dapat tercapai dengan baik.
  11. Telah dilakukan analisis secara teknis guna menentukan hubungan antara produksi TSS dengan faktor-faktor penentunya sehingga perkiraan produksi dan penentuan lokasi dapat ditentukan dengan baik.
  12. Matrik kerja produksi TSS untuk tahun 2018 (APBN) telah disusun berdasarkan jumlah biaya dan target produksi TSS mengenai lokasi penanaman, luasan (ha), varietas yang digunakan, kebutuhan benih, asal benih, waktu vernalisasi, dan waktu tanam di masing-masing lokasi yang telah ditetapkan. 
  13. Varietas yang akan ditanam di setiap lokasi dipilih disesuaikan dengan keadaan setempat. Meliputi Trisula totalnya 16,2 ton, Bima 3,5 ton, Batu Ijo 0,3 ton, Biru Lancor 0,3 ton dan SS-Sakato 0,5 kg sehingga untuk tahun 2018 totalnya dibutuhkan benih umbi sekitar 20,8 ton guna menghasilkan TSS sekitar 2 ton.
  14. Untuk setiap lokasi produksi TSS di lingkup Puslitbang Hortikultura dan BPTP Litbang Pertanian telah ditentukan juga waktu penanamannya. Penentuan ini ditentukan berdasarkan keadaan cuaca dan faktor lainnya sehingga nantinya pertumbuhan tanaman bawang merah kondusif untuk membentuk TSS yang optimal. Masa tanam berkisar antara bulan Maret dan Juni.
  15. Benih Sebar TSS perlu disertifikasi. Oleh karena itu proses sertifikasi harus melibatkan BPSB atau SMM pemilik varietas sejak perencanaan. Kepada pelaksana kegiatan diharapkan dapat memahami dengan baik tentang SMM dan prosedur sertifikasi benih, sehingga dapat diperoleh benih yang berkualitas yang legal/berlabel.
Guna memantapkan Juknis Produksi TSS, dan Pedum Produksi dan Pengembangan Benih Botani Bawang Merah telah dilakukan diskusi untuk mengevaluasinya. Saran-saran perbaikan disesuaikan dengan kondisi di lapangan yang telah dilakukan pada tahun 2017 dan sebelumnya (Adt).