PUSLITBANG HORTIKULTURA   
Teknik Okulasi pada Apokat

Teknik Okulasi pada Apokat

Tanaman apokat (Persea americana Mill) merupakan tanaman introduksi, diduga berasal dari Amerika Tengah dan Guatemala yang dibawa ke Indonesia sekitar abad 18. Tanaman ini telah berkembang dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Tanaman apokat tidak menghendaki persyaratan iklim yang ekstrim sehingga hampir di seluruh kondisi iklim di Indonesia relatif sesuai untuk pertumbuhan tanaman apokat. Namun demikian, Jawa, sebagian Sumatra, Sulawesi dan Nusa Tenggara masih mendominasi produksi apokat dibandingkan daerah lain di Indonesia 

Tahapan Perbanyakan Apokat Secara Okulasi
1. Ekstraksi Benih Batang Bawah
  • Varietas batang bawah yang  digunakan adalah apokat Hijau Panjang yang ukuran benihnya besar, varietas ini mudah didapatkan di pasar. 
  • Biji berasal dari buah yang telah masak fisiologis.
  • Biji dipisahkan dari daging buah, kemudian dicuci sampai bersih. Kulit tipis/ari yang melapisi benih dikelupas, karena dapat menghambat pertumbuhan benih.
  • Biji direndam dalam air hangat bersuhu 52°C selama 20 menit, kemudian setelah kering angin direndam dalam larutan fungisida (misalnya penggunaan bahan aktif Benomyl) dengan takaran 5 gr/liter air selama 5-10 menit. Tujuannya untuk mengendalikan penyakit busuk akar Phythoptora cinamomi dan serangan jamur.
  • Setelah kering angin, biji siap ditanam atau disimpan pada suhu 5-10°C yang dapat bertahan selama ± 3 bulan.

2. Penyiapan Media dan Tanam Biji
  • Polybag yang digunakan adalah berukuran diameter 15 cm x tinggi 17 cm; yang setelah diisi media tumbuh (tanah : pupuk kandang, 1:1 v/v) diletakkan di atas meja perbenihan yang alasnya berongga. Tujuannya, agar akar tunggang yang tumbuh dapat menembus keluar polybag dan karena perbedaan suhu, maka pertumbuhannya "berhenti", sehinga mempunyai efek pemangkasan yang melibatkan sistem perakarannya. 
  • Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, untuk mempercepat pertumbuhan dan perkecambahan biji dapat dilakukan dengan memotong sepertiga bagian dari tinggi biji, baik dari atas maupun dari bawah. 
  • Biji ditanam dengan posisi bagian runcing menghadap ke atas, ujung biji rata dengan permukaan media.
  • Setelah 2 – 2.5 bulan, semaian batang bawah sudah siap disambung, dengan diameter  batang antara 0.5 – 0.75 cm.

3. Penyiapan Entris Batang Atas
  • Entris diperoleh dari pohon induk apokat varietas Fuertindo koleksi KP Tlekung.
  • Untuk meningkatkan mutu entris, pohon induk terpilih setelah dipangkas dipupuk NPK 3 kg/pohon dan disiram secukupnya, dilakukan bersamaan penanaman benih.
  • Entris diambil dari pucuk yang daunnya telah berkembang sempurna atau yang lebih muda, dengan keadaan mata tunas padat dan berasal dari cabang/ranting yang pertumbuhannya lurus ke atas.
  • Mata tunas terpilih siap diokulasi pada batang bawah apokat

4. Okulasi
  • Okulasi dilakukan pada batang bawah dengan ketinggian antara 15-20 cm dari permukaan tanah atau pangkal akar
  • Kulit berikut kayu batang bawah diiris dengan posisi irisan bagian bawahnya miring ke dalam
  • Ranting mata tempel varietas Fuertindo diiris bagian kulit dan kayunya dengan bentuk dan ukuran yang sama dengan irisan yang telah dibuat pada batang bawah
  • Irisan mata tempel disisipkan pada irisan batang bawah
  • Selanjutnya diikat dengan tali plastik okulasi mulai dari bawah sampai atas membentuk susunan seperti atap sehingga air tidak dapat masuk
  • Keberhasilan okulasi ditandai dengan masih segarnya mata tempel dan berwarna hijau saat 3-4 minggu setelah okulasi
  • Untuk memacu pertumbuhan tunas hasil okulasi dilakukan dengan memotong batang bawah 2-3 cm di atas bidang okulasi

Pemeliharaan  Tanaman
Tahapan pemeliharaan benih apokat meliputi penyiraman, sanitasi lingkungan/penyiangan, pemupukan dan pemberantasan hama dan penyakit mutlak diperlukan selama proses perbenihan berlangsung. Penyiraman dilakukan secara rutin 2 - 3 hari sekali, untuk menghindari genangan polybag diberi lubang kecil-kecil. Sebelum dilakukan okulasi, media tidak perlu dipupuk karena kebutuhan unsur hara untuk tanaman muda sudah dipenuhi oleh sisa cadangan makanan dari biji. Pemupukan dilakukan setelah okulasi, dengan dosis Urea 0.5 – 1.0 gr/ltr air atau NPK 1.7 – 3.4 gr/ltr air seminggu sekali.
Penyemprotan dengan pestisida dilakukan jika diperlukan. Artinya bahwa penyemprotan dilakukan jika tanda-tanda serangan hama/penyakit sudah ada. Saat berumur 2 - 3 bulan setelah okulasi, benih siap dikirim atau ditransplanting ke polybag yang lebih besar ukurannya dengan media yang sama untuk okulasi atau dicampur dengan tanah. Benih siap ditanam di lapang 3 - 5 bulan setelah transplanting. (if)

Agus Sugiyatno - Puslitbang Hortikultura