PUSLITBANG HORTIKULTURA   
Dukungan Puslitbanghorti sebagai Narasumber Dalam Rangka Implementasi Kerjasama Puslitbanghorti dengan Universitas Djuanda

Dukungan Puslitbanghorti sebagai Narasumber Dalam Rangka Implementasi Kerjasama Puslitbanghorti dengan Universitas Djuanda

Pada masa pandemi Covid-19, sektor pertanian menjadi penopang ketahanan pangan yang paling penting dan krusial. Tanaman indigenous dapat menjadi potensi untuk meningkatkan ketahanan tubuh pada masa pandemi. Guna mendukung peningkatan pemahaman masyarakat terkait dengan pemanfaatan tanaman pangan indigenous, Pusat Penelitian dan Pengembangan Horikultura (Puslitbanghorti) berkesempatan menyampaikan informasi pada acara webinar dengan topik “Pemanfaatan Tanaman Indigeneous untuk Peningkatan Imunitas dan Ketahanan Pangan Keluarga” yang diselenggarakan oleh Universitas Juanda Bogor pada hari Rabu, 17 Juni 2020 secara virtual. Hal ini dilakukan sebagai bentuk implementasi kerja sama antara Puslitbanghorti dengan Universitas Djuanda yang telah dimulai sejak tahun 2018 tentang Kerja sama dalam penelitian, pengabdian pada masyarakat, publikasi/seminar dan kuliah kerja profesi (KKP) di Bidang Pertanian. Dalam kesempatan tersebut Ir. Sulusi Prabawati, MS selaku Peneliti Ahli Utama di Puslitbanghorti berkesempatan menjadi pembicara dengan tema “Rumah Pangan Lestari sebagai Sumber Pangan Fungsional Keluarga dalam Meningkatkan Imunitas”. 

Rumah Pangan Lestari (RPL) adalah rumah penduduk yang mengusahakan pekarangan secara intensif untuk dimanfaatkan dengan berbagai sumberdaya lokal secara bijaksana yang menjamin kesinambungan penyediaan bahan pangan rumah tangga yang berkualitas dan beragam. Ketersediaan pangan dalam jumlah cukup sepanjang waktu merupakan kebutuhan dasar yang tidak terelakkan. Hal tersebut menjadi alasan utama mengapa kecukupan pangan menjadi prioritas dalam pembangunan nasional. Ketahanan pangan menjadi sangat strategis mengingat tidak ada negara yang mampu melakukan pembangunan tanpa menyelesaikan terlebih dahulu masalah pangannya.

Disampaikan oleh Ir. Sulusi Prabawati bahwa terdapat 5 Prinsip dasar RPL antara lain: 1). Pemanfaatan pekarangan yang ramah lingkungan dan dirancang untuk ketahanan dan kemandirian pangan; 2).Diversifikasi pangan berbasis sumber daya lokal; 3) Konservasi sumberdaya genetik pangan (tanaman, ternak, ikan); 4) Menjaga kelestariannya melalui kebun bibit desa; 5) Peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

RPL berkembang terus sesuai kebutuhan, hingga lahir konsep  RPL  baru/special, di mana RPL baru merupakan perwujudan dari RPL yang sudah ada yang diperkaya dan berfungsi sebagai sumber pangan fungsional serta sumber pangan kaya antioksidan, untuk mengenalkan cara-cara baru pemanfaatan/pengolahan hasil, bertanggungjawab terhadap alam (limbah tanaman/dapur kembali ke alam).

Dalam webinar tersebut disertakan penjelasan sumber pangan fungsional dan antioksidan, cara pemilihan tanaman; manfaatnya bagi kesehatan; cara memanfaatkan/mengolah agar mendapatkan manfaat maksimal dari pangan fungsional/antioksidan; konsep lestari. 

Keunggulan, produk RPL yaitu dapat menghasilkan produk super (handal) yang pada dasarnya merupakan sajian terbaik bagi keluarga yang terjamin kualitasnya, karena segar dan aman dikonsumsi (tanpa pestisida), sajian bervariasi karena bahan tersedia,dapat melahirkan cara pandang baru dalam perilaku konsumsi, yaitu bijaksana makan secara bertanggungjawab terhadap kebutuhan tubuh dan lingkungan (petik dan olah yang diperlukan, limbah kembali ke alam).

Selain itu, aktifitas menanam dan mengonsumsi hasil tanaman dari pekarangan juga dapat meningkatkan kesehatan keluarga secara jasmani dan rohani serta menjaga kelestarian lingkungan kita menjadi lebih segar. Di sisi lain terdapat nilai spriritual yang diperoleh karena kita dapat saling berbagi dengan tetangga dan berbagi juga dengan mahluk Tuhan lainnya yaitu burung dan serangga penyerbuk. Aktififtas menanam dapat menjadikan jiwa kita sehat dan dapat menghilangkan stres. Paduan keduanya dapat meningkatkan imunitas tubuh pada kondisi pandemi COVID-19.