PUSLITBANG HORTIKULTURA   
Mentan: Hadirkan Ketahanan Pangan Nasional Melalui Pengembangan Tanaman Keluarga dan PMS

Mentan: Hadirkan Ketahanan Pangan Nasional Melalui Pengembangan Tanaman Keluarga dan PMS


Peringatan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke 39 dilaksanakan tanggal 2-5 Nopember 2019 di dua tempat berbeda. Kegiatan gelar teknologi pertanian berlokasi di Desa Puudambu, Kecamatan Angata, Kabupaten Konawe Selatan, Sultra, sementara pameran, seminar dan kegiatan lainnya  berlokasi di lapangan MTQ Kota Kendari, Sultra. HPS yang bertemakan ‘Teknologi Industri Peranian dan Pangan menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2045’ dibuka secara resmi oleh Menteri Pertanian RI Dr. Syahrul Yasin Limpo.

Ketua Pelaksana HPS Direktur Jenderal Hortikultura Dr. Prihasto Setyanto mengatakan bahwa terpilihnya Sulawesi Tenggara sebagai lokasi HPS ke 39 karena provinsi ini memiliki potensi pangan alternatif yang masih memungkinkan untuk dikembangkan yaitu sagu. Ditambah dengan perkebunan kakao rakyat yang cukup luas dan menjadi pemasok kakao dari Pulau Sulawesi. Setiap tahun Indonesia dan belahan negara lain didunia senantiasa memperingati HPS tidak lain adalah untuk mengingatkan kembali akan pentingnya pangan dalam menjaga kesinambungan kehidupan dunia. Berbagai kegiatan lain yang digelar dalam rangka memperingati HPS adalah; diplomatic tour, gelar inovasi teknologi, seminar nasional, festival pangan lokal, aneka lomba, temu bisnis dan pameran.

Gubernur Sulawesi Tenggara H. Ali Mazi, SH pada sambutan selamat datangnya menyampaikan bahwa sektor pertanian seperti sub sektor pangan, perkebunan, hortikultura dan perikanan masih terbuka luas  dan memiliki prospek yang sangat bagus untuk dikembangkan di Sulawesi Tenggara. Inovasi teknologi pertanian yang digelar di Desa Puudambu diharapkan mampu mendorong gairah petani untuk terus melakukan upaya pengembangan pertanian di Konawe Selatan dan daerah lain di Indonesia. Menurut perwakilan FAO bahwa dunia memerlukan usaha yang lebih keras untuk mengakhiri kelaparan serta segala bentuk kekurangan gizi dan mencapai ketahanan pangan untuk semua. Pola makan secara umum di Indonesia tidak sama dengan kebanyakan negara berpenghasilan menengah. Indonesia memiliki ketergantungan yang tinggi kepada beras, namun konsumsi sayuran, buah, lemak dan daging rendah. Porsi asupan energi tertinggi penduduk Indonesia diperoleh dari biji-bijian khususnya beras. Porsi makanan bukan tepung di Indonesia sekitar 30 persen sedangkan rata-rata global penduduk dunia 50 persen.

Sebagai upaya menciptakan ketahanan pangan nasional Mentan mengajak pemerintah provinsi di seluruh Indonesia untuk melakukan aksi pengembangan tanaman keluarga melaui nota kesepahaman dengan Kementerian Pertanian. Tidak hanya itu Mentan juga mencanangkan Pertanian Masuk Sekolah (PMS) untuk sekolah dasar dan menengah sehingga mereka memiliki pengetahuan dan kemampuan  yang bisa langsung diaplikasikan di lingkungan sekitarnya. Semangat HPS 2019 harus menjadi konsolidasi emosional pimpinan negara, tokoh politik, tokoh masyarakat dan lain-lain bahwa pertanian dan kebutuhan pangan adalah tanggung jawab dan masalah kita bersama bukan hanya kewajiban pemerintah. Komitmen Pemerintah RI adalah berkontribusi secara aktif terhadap ketersediaan pangan global sampai seluruh bangsa di dunia mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri-sendiri. 


Pada HPS ke 39 yang berlangsung 2-5 Nopember 2019 di Sultra, Puslitbang Hortikultura berkontribusi aktif mewujudkan ketahanan pangan keluarga dengan melakukan gelar inovasi teknologi hortikultura secara monokultur maupun dikombinasikan dengan perikanan, peternakan dan lain-lain sebagai percontohan pertanian terpadu. Model pertanian seperti ini dalam jangka pendek diharapkan mampu memenuhi secara mandiri kebutuhan pangan keluarga dan jangka panjangnya menjadi modal yang kuat untuk menciptakan ketahanan pangan secara nasional. Komoditas hortikultura yang digelar pada kegiatan HPS ke 39 meliputi; (1). Geltek cabai merah besar, (2). Cabai merah keriting, (3). Bayam GT. Merah, (4). Bayam GT. Hijau, (5). Bayam Belang, (6). Buncis Tegak, (7). Buncis Rambat, (8). Mentimun, (9). Kacang Panjang, (10). Bawang Merah, dan (11). Pepaya Merah Delima. 


Munculnya tanaman hortikultura terutama sayuran di Desa Puudambu, Sultra menjadi sesuatu yang unik dan asing bagi masyarakat setempat mengingat selama ini penduduk desa tersebut hanya mengusahakan  tanaman kakao dan nilam. Hadirnya HPS di Sulawesi Tenggara bisa menjadi terobosan dan pintu masuk pengembangan serta penyebarluasan inovasi teknologi hortikultura disana. (Uq. 2019)