PUSLITBANG HORTIKULTURA   
Gedong Gincu Terjegal, Puslitbanghorti Turun Tangan

Gedong Gincu Terjegal, Puslitbanghorti Turun Tangan

(Indramayu-29/10/2019) Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura (Puslitbanghorti) fokus tingkatkan kualitas produk mangga untuk pasar ekspor.

Sejak diinisiasi awal 2019, Puslitbanghorti melalui Balai Penelitian Buah Tropika (Balitbu) sebagai pelaksana teknis, bekerjasama dengan Australian Center for International Agricultural Research (ACIAR) fokus dalam upaya pengendalian lalat buah pada komoditas mangga. Kerja sama berjudul Development of Wide-Area Management Approaches for  Fruit Flies in Mango direncanakan akan berjalan selama lima tahun hingga 2023. Tak hanya melibatkan dua pihak, kegiatan ini juga melibatkan Direktorat Perlindungan Hortikultura, Dinas Pertanian Cirebon, Dinas Pertanian Indramayu, serta dosen dan peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM).

Mangga, utamanya Mangga Gedong Gincu sebenarnya memiliki daya tarik yang sangat tinggi di beberapa negara seperti Jepang, Korea, Qatar, Arab Saudi, dan Swiss. Negara-negara tersebut sebenarnya sangat antusias menyambut kedatangan Gedong Gincu. Akan tetapi, produk ini tak bisa bebas melenggang dengan ditemukannya telur lalat dalam produk.
Sebagai bentuk komitmen Puslitbanghorti dalam meningkatkan kualitas produk-produk hortikultura, maka dengan mengandeng beberapa pihak, dilaksanakan kerja sama yang berfokus pada pengendalian hama lalat buah untuk komoditas mangga. Pemilihan lokasi demo plot (demplot) pengendalian lalat buah adalah Cirebon dan Indramayu yang merupakan sentra penghasil mangga terutama Mangga Gedong Gincu, terbesar di Indonesia. Terdapat dua demplot di Cirebon, yaitu di Desa Sedong Lor dan Desa Putat serta dua demplot di Indramayu yang terletak di Desa Krasak dan Desa Sliyek Lor. Pengendalian dilakukan dengan penggunaan umpan protein (protein bait) dan perangkap metil eugenol.

Metil eugenol maupun protein bait memiliki cara kerja yang hampir sama. Kedua zat ini merupakan zat atraktan atau zat penarik serangga utamanya lalat buah. Metil eugenol menarik lalat buah jantan sedangkan protein bait menarik lalat buah jantan maupun betina. Pada penggunaan metil eugenol, lalat buah jantan tertarik pada zat atraktan yang menyebabkan lalat tersebut masuk dalam kemudian terjebak dan mati. Adapun penggunaan protein bait yaitu dengan mencampurkan bahan tersebut dengan pestisida berbahan aktif abamectin, kemudia disemprotkan setiap minggu sekali pada masing-masing pohon.
Penggunaan kedua cara ini masih terus dalam tahap pengembangan dan evaluasi. "Jika metode ini memang ke depan bisa meningkatkan kualitas buah mangga dan mudah dalam pengaplikasian serta aksesibilitas bahannya, semoga bisa direplikasi di perkebunan mangga lainnya di Indonesia. Kita juga berencana buka jalur pemasaran baik pasar dalam negeri terutama pasar modern maupun pasar ekspor," ujar Rizka Amalia Nugrahapsari, selaku Kepala Sub Bidang Kerja Sama Puslitbanghorti di sela-sela kunjungan lapang.

Kunjungan lapang yang berlangsung selama dua hari ini bertujuan untuk monitoring dan evaluasi kerja sama. Kunjungan diawali di demplot Cirebon kemudian di demplot Indramayu. Hadir dalam kunjungan rombongan Puslitbanghorti, rombongan Balitbu yang dipimpin Ellina Mansyah selaku Kepala Balai, rombongan peneliti ACIAR, rombongan dosen dan peneliti UGM, Kepala Bagian Hortikultura Dinas Pertanian Cirebon, dan Kepala Bagian Hortikultura Dinas Pertanian Indramayu.
Menurut keterangan petani pengelola demplot, tingkat serangan hama lalat buah menurun dibandingkan dengan lahan yang tidak menggunakan metode ini. "Metode ini harus berkelanjutan dari semua sisi. Petani harus bisa mendapat insentif dari kerja keras mereka," pungkas Jawal Anwarudisyah peneliti senior yang hadir sebagai tim monitoring dan evaluasi Puslitbanghorti. (IMNS/RA)