PUSLITBANG HORTIKULTURA   
Foto untuk : Hortikultura di Lahan Rawa Sumsel: Bisa!

Hortikultura di Lahan Rawa Sumsel: Bisa!

Lahan rawa yang begitu luas, menjadi sasaran program Kementerian Pertanian untuk mendukung peningkatan produksi pangan nasional, menyejahterakan petaninya sekaligus menyelamatkan rawanya. Dalam program tersebut, budidaya padi menjadi utama didukung hasil dan pendapatan dari hortikultura, ternak dan ikan. 

Inovasi hortikultura masuk ke lahan rawa di areal sawah bersinergi dengan padi: mengisi pematang dengan aneka sayuran, memanfaatkan lahan restan (antara sawah dan saluran tersier) ditumpangsari antara aneka sayuran dan pepaya Merah Delima. Hortikultura juga bisa  memanfaatkan pekarangan sekitar rumah dengan tanaman buah dan sayuran yang bersinergi dengan ternak. Konsepnya adalah budidaya hortikultura ramah lingkungan dengan memanfaatkan sumberdaya lokal: jerami padi sebagai mulsa, penanaman refugia, penggunaan minyak sereh, likat kuning, pestisida nabati, pupuk hayati, pupuk kandang, dan pengurangan penggunaan pupuk kimiawi dan pestisida kimiawi. Pada tahap awal, produk yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan sayuran dan buah di kawasan rawa Muara Telang, tetangganya dan secara bertahap dikembangkan menjadi desa sayuran, desa mangga, desa pisang, desa pepaya untuk pemasaran ke luar daerah Muara Telang. Satu kelompok tani, semisal Mukti Sari memiliki sawah 64 Ha, dengan lahan restan sepanjang 800m, lebar bervariasi 25-50m. Pematang sekitar 2-5% dari sawah, dan tiap warga memiliki pekarangan 0,25 Ha dikurangi rumah dan fasilitas lainnya. Masih cukup luas lahan yang bisa dimanfaatkan untuk tanaman sayuran dan buah.   

Gambar: tanaman kubis milik pak Sabar bulan September bisa panen dan tomat milik pak Marto
dengan ujung bedengan ditanam pepaya Merah

Untuk mengenalkan teknologi, dibuat demplot yang dikerjakan bersama Gapoktan dan kelompok tani, sejak bulan Mei 2019. Lahan restan kurang lebih seluas 8.000m2, menjadi wahana pembelajaran bagi kelompok tani Mukti Sari desa Telang Makmur, kecamatan Muara Telang dan petani tetangga desa. Di lahan tersebut, sudah berlangsung budidaya sayuran ramah lingkungan secara tumpang sari, dan pepaya Merah Delima pada pematangnya. Lahan restan tersebut dikelola oleh 9 orang petani, saat ini dengan sayuran kubis, tomat, cabai, dan kangkung di bedengan dan pepaya Merah Delima di pinggirnya. Empat jenis sayuran tersebut adalah kesepakatan yang didasari pilihan petani. Kubis dan tomat, sayuran yang selalu didatangkan dari pasar Induk jakabaring Palembang, ingin bisa dihasilkan dari Telang Makmur, maka ditanam kubis dataran rendah, varietas KK Cross. Cabai rawit, tomat, kubis menunjukkan perkembangan yang bagus, dapat mulai panen pada sekitar pertengahan September 2019. Kangkung sudah panen, dan mulai tanam lagi pada bedengan yang berbeda. Penampilan kubis yang tumbuh baik di lahan rawa tersebut menarik petani lain, dan menjadi tempat kunjungan dan pembelajaran. 

Teknologi yang diterapkan untuk kubis adalah penggunaan pupuk kandang yang dicampur dengan trichoderma, aplikasi asam humat dan fulvat, penyemprotan minyak sereh, pemasangan likat kuning, penyemprotan beauveria, dan penggunaan pupuk kimiawi: NPK & urea, dan baru satu kali penyemprotan pestisida untuk pengendalian hama Spodhophtera litura dan Crocidolomia binotalis.

Untuk hortikultura di pekarangan, setelah musim hujan tiba, segera akan ditanam mangga, pisang, dan mengganti varietas mangga yang kurang enak dengan varietas unggul mangga merah melalui top working (Prabawati S dan D. Mulyono).