PUSLITBANG HORTIKULTURA   
Dari mana benih kentang berasal...?

Dari mana benih kentang berasal...?

Mengikuti perjalanan tim peneliti Puslitbang Hortikultura minggu kedua Juli 2019 ke desa-desa sentra kentang di kecamatan Pengalengan kabupaten Bandung, menggoda rasa ingin tahu lebih jauh, dari mana awalnya benih kentang ini berasal?. Seperti apa benih kentang? Benih kentang yang umum dijual berupa umbi, dengan kelas benih G0, G1, dan G2. Untuk langsung ditanam dan menghasilkan kentang konsumsi, bisa membeli benih kelas G2. Untuk menghasilkan benih lagi, bisa memesan benih kelas G1 atau G0, biasanya yang memesan adalah Penangkar Benih Bersertifikat. Melihat macamnya, benih kentang yang tersedia dan banyak dibutuhkan adalah Granola, jenis kentang sayur. Untuk jenis kentang industri, terdapat Medians dan Atlantik. Sebenarnya masih terdapat banyak varietas kentang yang bisa dipilih, seperti Maglia, Repita, GM-08, GM-05, Ping 06, Kikondo, Tenggo, Balsa, Kastanum, Andina dan sederet nama lainnya. 

Menurut penuturan beberapa tokoh sepuh yang sudah menekuni menanam kentang bersama orang tuanya, dulu benih kentang berasal dari Belanda dan Jerman. Banyak jenis dan nama, salah satunya Granola. Produksi benih kentang di Pengalengan tidak lepas dari peran BPSB Jabar (dulu BPSBTH Jabar), Balai Benih Kentang Pengalengan (dulu BBI Pengalengan), dan Balitsa. Yang paling hulu dalam siklus produksi adalah Balitsa. Tulisan pak Wattimena menyebutkan bahwa pada periode 1992-2002, ada program perbenihan kentang sistem JICA-JABAR (SJJB). Balitsa menghasilkan stek mikro bebas virus dan berperan menjaga kemurnian varietas kentang, Balai Benih Kentang Pengalengan menghasilkan stek mini dan umbi benih G0 di screen A, dan menghasilkan benih G1 di screen B serta menghasilkan G2 di lapang, BPSB Jabar bertugas inspeksi lapang dan inspeksi umbi serta memberi label sesuai mutu umbi benih kentang. Selanjutnya G2 yang dihasilkan didistribusikan kepada penangkar untuk produksi G3 dan G4. Rancangan sistem SJJB tersebut diterapkan di sembilan propinsi sentra kentang, melalui pendirian BBI dan BBU. 

Sambil menjalankan peran dalam produksi benih kentang, Balitsa dan Balai Benih Kentang Pengalengan melakukan seleksi dan menghasilkan varitas kentang Granola Lembang (Granola L), yang sekarang banyak ditanam petani. Berkembangnya varietas Granola L ini, juga karena adanya larangan masuknya benih impor dari Belanda dan Jerman, karena merebaknya NSK, Nematoda Sista Kentang, yang melumpuhkan produksi kentang karena penurunan drastis (sampai 70%) akibat serangannya.

 
Sampai saat ini, Pengalengan, kabupaten Bandung, Jawa Barat, tetap menjadi salah satu produsen benih kentang. Benih Penjenis kentang berupa planlet dalam botol berasal dari Balitsa, yang bisa diperoleh melalui Delegasi Legalitas, Lisensi atau membeli langsung, yang kemudian menjadi dasar untuk produksi benih kelas G0, G1, dan G2. Sekarang, industri perbenihan kentang di kecamatan Pengalengan memenuhi permintaan benih berbagai daerah sentra kentang di Indonesia, selain Jawa Barat sendiri. Sebut saja, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, dan kawasan kentang di Sulawesi Utara. Pasalnya, benih yang berupa umbi tersebut sudah dipasarkan melalui banyak kanal: secara langsung di lokasi, membuka toko di daerah sentra kentang dan sudah merambah pemasaran daring. Pemasaran daring banyak ditangani orang muda, seperti yang dilakukan oleh Saghara Agri. Tinggal klik di Tokopedia, Agromaret, Kios Agro, pasarlelang.net, selanjutnya....tinggal tunggu kiriman benih kentang datang.
 
Dengan makin berkibarnya benih kentang hasil karya anak negeri, semoga sukses memenuhi kebutuhan penganekaragaman pangan Indonesia tercinta, yang mencanangkan swasembada kentang industri tahun 2020 (Prabawati, S., Hayati, N.Q dan Nugrahapsari, R.A).